26 Maret 2011

PERUBAHAN PARADIGMA

Sebuah paradigma adalah seperangkat peraturan dan ketentuan (tertulis maupun tidak) yang melakukan dua hal : (1) ia menciptakan atau menentukan batas-batas; dan (2) ia menjelaskan kepada Anda cara untuk berperilaku di dalam batas-batas tersebut agar menjadi orang berhasil (Joel Arthur Barker).
Barker juga memberikan tujuh ciri penting dari paradigma, yakni : pertama, paradigma adalah hal yang biasa; kedua, paradigma bersifat fungsional; ketiga, pengaruh paradigma membalikkan hubungan yang masuk akal antara melihat (seeing) dan mempercayai (believing); keempat, jawaban yang benar hampir selalu lebih dari satu; kelma, paradigma yang terlalu diandalkan (too strongly held) dapat mengakibatkan kelumpuhan paradigma, suatu penyakit mematikan dari keserbapastian; keenam, kelenturan paradigma merupakan strategi yang paling jitu pada masa yang tak menentu (turbulent times); dan ketujuh, manusia dapat memilih untuk mengubah paradigm mereka.
Adam Smith menyebutkan paradigma sebagai “suatu asumsi bersama”. Dan ia menambahkan bahwa “Apabila kita berada di tengah – tengah suatu paradigma, maka sulit untuk membayangkan paradigma yang lainnya.”
Kenyataan bahwa paradigma dapat digeser, berkembang, dan bertumbuh mengikuti proses pertumbuhan diri (terutama) secara social-psikologikal-spiritual, menunjukkan bahwa paradigma itu bersifat dinamis (reformis), tidak statis (status quo). Manusia dapat memilih (freedon to choose) untuk menggeser paradigma mereka secara sadar berdasarkan intuisi. Intuisi menurut Barker yaitu suatu kemampuan melakukan penilaian dalam membuat sebuah keputusan yang tepat dengan data-data yang tidak lengkap. Apa yang mereka putuskan secara intuitif ini lebih berdasarkan pada faith , bukan evidence. Mereka memilih untuk hidup dan bertindak lebih berdasarkan faith daripada data-data atau bukti-bukti yang bagaimanapun ilmiahnya. Mereka inilah orang-orang yang percaya dahulu (believing) dan kemudian dapat melihat (seeing) apa yang dipercayainya menjadi kenyataan). Untuk mewujudkan apa yang diyakininya tersebut diperlukan keberanian (courage) disertai ketekunan (persistence). Mereka inilah termasuk para PEMIKIR KREATIF.

Sumber : Menjadi Manusia Pembelajar, Andrias Harefa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar