‘Sesungguhnya cemburu (yakni cemburu yang wajar dan masuk akal adalah bagian) dari keimanan.’ (HR. Al-Baihaqi dan Ibnu Babawih)
Hadits di atas menunjukkan bahwa kita diperbolehkan cemburu, tapi... Ingat yaa.. tidak asal cemburu tetapi yang diperbolehkan adalah cemburu yang wajar dan masuk akal. Jadi cemburu yang tidak wajar dan tidak masuk akal tidak diperbolehkan sama Allah :)
Kalau cemburu sama pacar?
Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Allah itu cemburu dan orang yang beriman juga cemburu. Kecemburuan Allah, yaitu jika orang mukmin melakukan apa yang diharamkan. (Shahih Muslim No.4959)
Sebenarnya boleh gak sih kita pacaran? Jadi PR yaa :)
Allah pasti cemburu ketika umatnya memilih yang lain daripadaNya, ketika Allah memanggilnya dengan seruan adzan, dengan kewajiban zakat misalnya, tetapi umatnya memilih sibuk dengan urusannya atau menunda-nunda waktu shalat, tidak menunaikan zakat karena lebih mencintai hartanya. Mereka lebih mencintai yang lain daripada Allah, padahal Allah lah yang memberinya nikmat, rahmat, dan anugerah kepadanya. Allah Pemilik segalanya, cemburuNya Allah karena umatnya yang tidak mematuhi perintahNya, padahal itu untuk kebaikan umatnya tapi umatnya tidak lebih memilih kebaikan daripada yang lain.
Jadi kalau kita lebih mencintai yang lain daripada Allah salah gak tuh? Perlu diingat bahwa Allah lah yang menganugerahkan cinta kepada kita. Jadi Allah pasti cemburu jika kita lebih mencintai yang lain daripada Allah #keyword
Manusia mewakili beberapa sifat Allah, jika Allah Maha Penyayang kita pun diberi sifat penyayang, tetapi manusia tidak bisa menyamai Allah, karena Allah beda dengan makhlukNya. Begitupun dengan cemburu, kita pun memiliki sifat itu. Tapi cemburu yang kita miliki membuka dua kemungkinan; pertama, cemburu yang wajar dan masuk akal yang merupakan bagian dari keimanan seperti yang disebutkan dalam hadits di atas, misalnya cemburu dengan orang lain yang sedekahnya lebih banyak dari kita, yang memicu kita melakukannya juga (untuk beribadah lebih baik lagi)^ [copypast dari teman :)]. Sedangkan cemburu ketika orang lain bahagia kita tidak menyukainya ini adalah contoh kemungkinan yang kedua yaitu cemburu yang tidak diperbolehkan, cemburu yang tidak wajar dan jauh dari keimanan karena dapat menimbulkan perbuatan yang tidak baik bahkan perbuatan yang keji.
Tak pelak kita sebagai manusia memiliki nafsu amarah. Namun kita juga diberi kekuatan untuk bisa menahan amarah, kita punya hati dan akal, kita memang berhak untuk marah, tapi pikirkan saat kita ingin marah, masuk akalkah kalau kita marah? dan pantaskah jika kita marah? Lalu di sini apa hubungannya marah dengan cemburu yang telah dibahas di atas, Ya… cemburu yang berlebih itu memancing nafsu amarah, Sesuatu yang berlebih itu tidak baik.
Jadi ada hal-hal yang perlu kita pikirkan ketika kita cemburu.
Ibnu Umar berkata, "Istri Umar menghadiri shalat subuh dan isya dengan berjamaah di masjid. Kemudian kepada istri Umar itu ditanyakan, 'Mengapa Anda keluar, sedangkan Anda mengetahui bahwa Umar tidak menyukai hal itu dan suka cemburu.' Istri Umar menjawab, 'Kalau begitu, apakah yang menghalanginya untuk mencegahku?' Orang itu berkata, 'Yang menghalangi Umar ialah sabda Rasulullah, 'Janganlah kamu semua mencegah hamba-hamba wanita Allah untuk mendatangi masjid-masjid Allah."'
Berusahalah menahan rasa cemburu sehingga tidak menjadi berlebihan atau mendatangkan perbuatan yang tidak baik. Oleh karena itu akan lebih baik jika diam karena takut tidak bisa menahannya :)
Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. apabila hendak melakukan perjalanan, beliau selalu mengadakan undian di antara istri-istrinya, lalu keluarlah undian tersebut untuk Aisyah dan Hafshah sehingga mereka berdua berangkat bersama Rasulullah saw. Dan pada malam hari, Rasulullah saw. berjalan bersama Aisyah untuk bercakap-cakap dengannya. Suatu kali berkatalah Hafshah kepada Aisyah: Maukah kamu malam ini menunggangi untaku dan aku menunggangi untamu sehingga kamu dapat melihat begitu juga aku. Aisyah menjawab: Baiklah. Maka Aisyah lalu menunggangi unta milik Hafshah dan Hafshah menunggangi unta Aisyah. Lalu datanglah Rasulullah saw. menghampiri unta milik Aisyah yang ditunggangi oleh Hafshah kemudian mengucapkan salam dan berjalan bersamanya sampai mereka turun berhenti. Tiba-tiba Aisyah merasa kehilangan Rasulullah dan merasa cemburu. Ketika mereka turun berhenti, mulailah Aisyah menendangkan kakinya ke tumbuh-tumbuhan izkhir yang harum baunya sambil berkata: Ya Tuhanku! Semoga ada kalajengking atau ular yang menggigitku sedang aku tidak dapat mengatakan sesuatu apapun kepada rasul-Mu. (Shahih Muslim No.4477)
Hadis riwayat Mughirah bin Syu`bah ra., ia berkata:
Sa`ad bin Ubadah berkata: Seandainya aku mendapati seorang lelaki bersama istriku, maka aku akan menikam orang itu dengan pedang tanpa ampun. Sampailah ucapan Sa`ad tersebut ke telinga Rasulullah saw., lalu beliau bersabda: Apakah kalian kagum dengan kecemburuan Sa`ad? Demi Allah, aku lebih cemburu daripadanya dan Allah lebih cemburu lagi daripadaku. Demi kecemburuan itulah, maka Allah mengharamkan segala kejahatan baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Tidak ada yang lebih cemburu daripada Allah, dan tidak ada seorang pun yang lebih menyukai pengampunan daripada Allah. Demi itulah Allah mengutus para rasul sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan. Dan tidak ada seorang pun yang lebih menyenangi pujian daripada Allah, dan demi itulah Allah menjanjikan surga. (Shahih Muslim No.2755)
Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Tidak ada seorang pun yang lebih menyukai pujian daripada Allah maka oleh karena itulah Dia memuji Zat-Nya sendiri. Dan tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah maka karena itu Allah mengharamkan perbuatan keji. (Shahih Muslim No.4955)
Dan jika seseorang cemburu terhadap kita, maka jagalah perasaannya :)
Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Dari Rasulullah saw. beliau bersabda: Ketika tidur, tiba-tiba aku bermimpi melihat diriku berada di dalam surga dan menyaksikan seorang wanita sedang berwudu di samping sebuah istana. Aku lalu bertanya: Milik siapakah istana ini? Mereka menjawab: Milik Umar bin Khathab. Tiba-tiba saja aku teringat akan kecemburuan Umar. Maka aku pun pergi meninggalkan tempat itu. Lebih lanjut Abu Hurairah ra. mengatakan: Mendengar itu seketika Umar menangis sedang kami semua berada di majlis tersebut bersama Rasulullah saw. kemudian Umar berkata: Demi Allah, wahai Rasulullah, apakah kepada engkau aku cemburu?. (Shahih Muslim No.4409)
Jadi, cemburu adalah sesuatu hal yang wajar kita rasakan, benarkah? Ya, wajar jika masuk akal dan tidak berlebihan :)
Wallahua’lam.. Allah lebih mengetahui
#Tulisan ini berawal ketika aku cemburu kemudian membaca beberapa hadits Rasulullah SAW. Cemburu yang aku rasakan ada baik dan buruknya, jadi ambil yang baiknya aja ya.. . Aku menulisnya sebagai pengingat. Jika kalian bersedia berbagi hikmah, tentunya aku akan sangat senang :)
Sekian dulu ya.. :)