26 Maret 2011

PEMIKIR KREATIF

Pemikir kreatif mempertanyakan segalanya

Bagi orang yang kreatif, rasa ingin tahu adalah pandangan hidup. Mereka selalu ingin tahu, berjiwa petualang. Mereka harus mengetahui apa yang menyebabkan segala sesuatu. Ketika masih kecil, mereka mengintip bagian belakang pesawat televisi untuk memeriksa apakah ada orang-orang kecil yang keluar masuk dari belakang. Juga saat kita sedang memasang lemari atau sedang memasak, mereka pasti akan mencoba membantu. Pemikir kreatif hebat dalam mengikuti inovasi teknis dan cara baru berpikir tentang berbagai hal, hanya dengan mengikuti sifat ingin tahu mereka. Kita bisa mengembangkan kemampuan ini dengan berlatih. Mulai dengan membiasakan bertanya mengapa dan bagaimana. Tantanglah semua hal dan semua orang.

Pemikir kreatif menghasilkan gagasan

Cara terbaik untuk mendapatkan gagasan yang hebat adalah dengan menghasilkan banyak gagasan. Semakin banyak gagasan yang kita punyai, semakin hebat pilihan kita. Seorang penemu, Dr. Yoshio Nakamata, pemegang 2300 hak paten, mendorong para pemikir kreatif, “Isilah otak Anda, terus memompa informasi ke dalamnya. Beri otak Anda bahan mentah yang banyak. Lalu, berilah ia kesempatan untuk memasaknya.” Jangan menilai gagasan sewaktu kita mengumpulkannya; masih banyak waktu untuk melakukannya nanti.

Pemikir kreatif mencari apa yang bekerja lebih baik

Pemikir kreatif tidak menerima segala sesuatu apa adanya. Mereka selalu mencari cara untuk memperbaiki keadaan. Konsultan manajemen Fred Pryor mengatakan bahwa orang kreatif melihat apa yang dilihat orang lain, tetapi mereka memikirkan apa yang tidak dipikirkan orang lain. Para pemikir kreatif tidak melihat masalah, mereka melihat tantangan.
Pemikir kreatif mematahkan paradigma
Paradigma memang penting – kita semua membutuhkan serangkaian aturan dan cara untuk membingkai gagasan agar berfungsi di dunia kita. Namun, kita bisa menjadi terlalu bergantung pada kenyamanan paradigma. Para pemikir kreatif tidak takut mencampakkan paradigma lama untuk memberi ruang bagi yang baru. Mereka menjebol batasan yang dipercayai.

Pemikir kreatif mengambil tindakan

Para pemikir kreatif membawa gagasan sampai berhasil. Mereka menggunakan kreatifitas mereka tidak hanya untuk mempertanyakan, mengumpulkan gagasan, dan menciptakan cara-cara baru melakukan berbagai hal, tetapi juga untuk menciptakan sarana mewujudkan gagasan itu. Mereka adalah pekerja. Mereka mengetahui apa yang dibutuhkan pada setiap langkah karena mereka peduli akan sekeliling mereka, akan kecenderungan dan kemungkinan. Mereka adalah pencoba-pasar. Mereka mencari tindakan yang dibutuhkan dalam membawa sebuah rencana pada kenyataan. Tidak semua pekerja itu kreatif, tetapi semua orang kreatif yang sukses adalah pekerja. Tindakan adalah factor pembeda antara mereka yang hanya bermimpi dan mereka yang berhasil.

Sumber: Buku Quantum Success

PERUBAHAN PARADIGMA

Sebuah paradigma adalah seperangkat peraturan dan ketentuan (tertulis maupun tidak) yang melakukan dua hal : (1) ia menciptakan atau menentukan batas-batas; dan (2) ia menjelaskan kepada Anda cara untuk berperilaku di dalam batas-batas tersebut agar menjadi orang berhasil (Joel Arthur Barker).
Barker juga memberikan tujuh ciri penting dari paradigma, yakni : pertama, paradigma adalah hal yang biasa; kedua, paradigma bersifat fungsional; ketiga, pengaruh paradigma membalikkan hubungan yang masuk akal antara melihat (seeing) dan mempercayai (believing); keempat, jawaban yang benar hampir selalu lebih dari satu; kelma, paradigma yang terlalu diandalkan (too strongly held) dapat mengakibatkan kelumpuhan paradigma, suatu penyakit mematikan dari keserbapastian; keenam, kelenturan paradigma merupakan strategi yang paling jitu pada masa yang tak menentu (turbulent times); dan ketujuh, manusia dapat memilih untuk mengubah paradigm mereka.
Adam Smith menyebutkan paradigma sebagai “suatu asumsi bersama”. Dan ia menambahkan bahwa “Apabila kita berada di tengah – tengah suatu paradigma, maka sulit untuk membayangkan paradigma yang lainnya.”
Kenyataan bahwa paradigma dapat digeser, berkembang, dan bertumbuh mengikuti proses pertumbuhan diri (terutama) secara social-psikologikal-spiritual, menunjukkan bahwa paradigma itu bersifat dinamis (reformis), tidak statis (status quo). Manusia dapat memilih (freedon to choose) untuk menggeser paradigma mereka secara sadar berdasarkan intuisi. Intuisi menurut Barker yaitu suatu kemampuan melakukan penilaian dalam membuat sebuah keputusan yang tepat dengan data-data yang tidak lengkap. Apa yang mereka putuskan secara intuitif ini lebih berdasarkan pada faith , bukan evidence. Mereka memilih untuk hidup dan bertindak lebih berdasarkan faith daripada data-data atau bukti-bukti yang bagaimanapun ilmiahnya. Mereka inilah orang-orang yang percaya dahulu (believing) dan kemudian dapat melihat (seeing) apa yang dipercayainya menjadi kenyataan). Untuk mewujudkan apa yang diyakininya tersebut diperlukan keberanian (courage) disertai ketekunan (persistence). Mereka inilah termasuk para PEMIKIR KREATIF.

Sumber : Menjadi Manusia Pembelajar, Andrias Harefa

24 Maret 2011

Tanpa Filsafat, Pendidikan Matematika Menjadi Lemah

Lemahnya pendidikan matematika di Indonesia merupakan akibat tidak diajarkannya filsafat atau latar belakang ilmu matematika. Dampaknya, siswa, bahkan mahasiswa, pandai mengerjakan soal, tetapi tidak bisa memberikan makna dari soal itu. Matematika hanya diartikan sebagai sebuah persoalan hitung-hitungan yang siap untuk diselesaikan atau dicari jawabannya.
Pengguna Ilmu
Karena tidak menyampaikan tentang filsafat matematika, ke depan Indonesia masih tetap sebagai bangsa yang hanya sebagai pengguna ilmu, bukan penemu ilmu. ''Kondisi ini sangat memprihatinkan, karena memang pola pendidikan kita mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, tidak diposisikan sebagai orang yang disiapkan untuk menjadi penemu ilmu. Siswa dan mahasiswa lebih diposisikan sebagai pengguna ilmu. Fakta ini sangat memprihatinkan dibanding dengan kita dicap hanya sebagai bangsa pengguna teknologi,''
Akibat dari semua itu, sering ditemui siswa atau mahasiswa tidak mampu memberikan penjelasan atau interpretasi terhadap sebuah soal dalam matematika.
Sebuah contoh, betapa para siswa SMA dan mahasiswa akan dengan mudah dan dipastikan benar, manakala diminta untuk mengerjakan soal determinan dari sebuah matrik. Tapi ketika ditanya lebih lanjut apa makna dan pengertian dari determinan yang telah dikerjakannya itu, hampir dapat di-pastikan, tidak ada yang mengerti.
Inilah problem dasar pada pendidikan matematika kita di Indonesia. Siswa atau mahasiswa tidak dibiasakan untuk menginterpretasikan sebuah persoalan. Padahal, kita tahu, matematika itu adalah interpretasi manusia terhadap fenomena alam,
Terhadap kelemahan itu, kita hanya berharap ada PERUBAHAN PARADIGMA dan cara pandang baru tentang bagaimana unsur-unsur filsafat itu bisa diberikan kepada siswa dan mahasiswa.
Tentu ini ditujukan kepada para guru dan dosen agar apa yang diberikan kepada para peserta didiknya harus dilengkapi dengan berbagai penjelasan dan latar belakang terhadap sebuah rumus yang telah diyakininya itu, sebagai sebuah pengetahuan filsafat.

lupa sumbernya darimana ^ ^
Jadi bingung buka Blog...udah lama gak diurus he.. :P